Citra Politis terhadap Media Islam

February 9, 2008 at 12:57 pm | In ARTIKEL | 2 Comments
Tags:

Oleh Ariyandi Gunawan

Mengikuti perkembangan pers di negeri kita Indonesia, nampaknya tidak sedikit para pengamat media yang mencitrakan media Islam secara serampangan dan mengandung motif politis didalamnnya. Akibatnya, munculah semacam citra buruk atau penggambaran negatif terhadap media islam. Sehingga seolah-olah mereka ingin memperkeruh eksistensi media Islam dari ranah publik, khususnya di Indonesia.

Pembentukan citra negatif terhadap media Islam tersebut dipraktikan dengan memakai label bermasalah. Belum lama ini saya menemukan labelilasi bermasalah terhadap media Islam yang di praktikan kaum liberal yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal (JIL). Kelompok ini  memberikan label Media Islam Radikal kepada Majalah Sabili.

Namun saya sedikit heran ketika praktik lebelisasi tersebut sebagain besar ditujukan kepada majalah Islam Sabili. Majalah islam Sabili diberikan label sebagai media islam radikal oleh kalangan muslim liberal. Selain itu, dulu Atmakusumah Astraatmadja mantan ketua dewan pers pernah memberikan label kepada Sabili sebagai media famflet. (Muhammad, 2001). Mengapa harus Sabili?

Mungkin Majalah Islam Sabili bisa dikatakan sebagai ikon media islam di Indonesia karena tiras penerbitannya yang tinggi dan sangat kental sekaligus konsisten merepresentasikan ideologi islam. Tiras majalah Sabili dalam sejarah media islam di Indonesia tergolong tinggi. Menurut hasil survei AC Nielsen majalah Sabili mencapai tiras 100 ribu eksemplar dan angka readership 600.000 orang. Tidak terpaut jauh, majalah Ummi mencapai tiras 80 ribu eksemplar pada tahun 2000. (www.islamlib.com, 2005).

Dalam sejarahnya, terdapat banyak media islam seperti Panji Masyarakat (Panjimas), Suara Muhamadiyah, Adil, Gema Islam dan Salam. Namun semua media Islam tersebut tidak bisa sampai menginjak tiras setinggi majalah Sabili. Media islam Panjimas yang pernah populer pada dekade 70-80-an hanya mampu mencapai angka tiras tertinggi 65 ribu eksemplar pada tahun 1983. Suara Muhamadiyah hanya mencapai tiras sebesar 20 ribu eksemplar pada tahun 1988. Adil, hanya bisa terbit 4 ribu eksemplar sekali terbit. Gema Islam, 10 ribu eksemplar (1961). Salam, hanya mencapai 42 ribu eksemplar 1990. (Junaedhi, 1995; Anwar 1993).

Apabila kenyataannya memang bahwa majalah Sabili pantas dikatakan sebagai ikon media islam, berarti pembentukan citra negatif dengan menggunakan labelisasi “radikal” terhadapnya, akan sangat rentan mengarah pada media Islam yang lainnya.  Dengan kata lain, media Islam yang memiliki corak keislamannya sangat kental, yang identik seperti Sabili, secara tidak langsung ikut terjaring dalam labelisasi bermasalah yang dipraktikan kalangan muslim liberal tersebut.

Apabila kita mengamati kecenderungan media massa terhadap persepsi publik Kita bisa melihat ada dua kecenderungan yang sangat menonjol dalam media massa. Pertama, media yang cenderung pragmatis. Media massa ini selalu berupaya menyesuaikan dirinya dengan persepsi publik. Kedua, media yang cenderung ideologis. Media ini selalu berupaya mempengaruhi persepsi publik agar berpihak sekaligus berprilaku sesuai dengan ideologi yang direpresentasikannya. Kecenderungan yang kedua inilah yang lazimnnya terdapat dalam media islam. Misalnya seperti Majalah Sabili, Tabloid Suara Islam,  Majalah Hidayatullah, dan lain-lain.

Menurut saya, media yang pragmatis bukan berarti netral atau tidak berpihak pada ideologi tertentu. Kadang kita tidak dapat menilai secara mutlak bahwa media tersebut berideologi atau tidak. Sebab, kecenderungan media pragmatis, dalam merepresentasikan ideologinya sangat kontekstual. Ideologi yang dibawa media yang pragmatis disesuaikan dengan ideologi khalayaknya yang sesuai selera bisnis saja. Bagi media massa semacam ini, yang paling utama adalah mendapatkan keuntungan bisnis dengan berbagai macam cara. Hal ini sangat berbeda dengan media yang ideologis. Kita bisa dengan mudah menilai bahwa media tersebut mengusung ideologi tertentu. Sebab, media semacam ini secara terang-tetangan merepresentasikan ideologinya kahadapan publik. Bagi media ini persoalan bisnis terkadang dinomerduakan, yang paling utama ideologinya dapat di terima publik.

Netralitas Media

Selama ini persepsi publik, khususnya di indonesia, sepertinya sangat terpengaruh dengan konsepsi netralitas media. Masyarakat kita cenederung lebih besar mengkonsumsi media yang tipis nuansa ideologisnya, dibandingkan dengan media yang kental bernuansa ideologis. Kita ambil contoh sebagai perbandingan surat kabar Kompas dengan Republika. Oplah surat kabar Kompas lebih tinggi dibandingkan Republika. Kompas mencitrakan dirinya sebagai surat kabar publik yang netral dengan label “Harian Umum”. Sedangkan Republika mencitrakan dirinya sebagai surat kabar publik yang bernuansa islami. Seharusnya Republika memiliki kedekatan lebih tinggi dengan publik karena masyoritas masyarakat di Indonesia beragama Islam. Sehingga oplah Republika seharusnya dapat lebih tinggi dibandingkan Kompas.

Kompas bisa dikatakan berhasil membangun citra sebagai media “netral” hingga dipercayai masyarakat. Ia menjadi surat kabar nasional terbesar di Indonesia dengan oplah tinggi. Padahal Kompas memiliki kedekatan dengan umat kristen. Semenjak kelahiran Kompas pada 27 Juni 1965, ia didukung oleh Partai Katolik.( Brosur Kompas untuk Harian Pers Nasional, 1989).

Surat kabar Republika mungkin bukan termasuk media Islam sepenuhnya. Republika resmi terbit pada 4 januari 1993, harian ini dijanjikan bukan sebagai koran agama, ia merupakan koran umum yang berwawasan kebangsaan dengan nafas islam dan berorientasi bisnis. Parni Hadi Pimpinan umum Republika saat itu mengatakan, meskipun bernafaskan islam, kami sama sekali tidak akan mengaitkannya dengan unsur primordial keislaman. (Pelita, 5 Januari 1993).

Bila melihat dari kondisi diatas, meskipun hanya benuansa islam atau tidak sampai merepresentasikan ideologi islam, persepsi publik sudah sangat terpengaruh konsepsi netralitas media. Sehingga dalam hal ini, kita bisa melihat, semakin sebuah media memperlihatkan citra didirinya netral, maka semakin besarlah kepercayaan publik kepadanya. Meskipun, misalnya, citra media tersebut tidak sesuai dengan realitas yang sebenarnya.

Citra Media Sekuler

Media Islam nampak begitu jelas menampakan identitasnya. Media Islam menampilkan isinya begitu kental dengan nilai-nilai islam. Misalnya majalah islam Sabili, Tabloid Suara Islam, Tarbawi, Ummi, Hidayatullah, dan lain sebagainya. Kenyatan ini jelas sekali mencerminkan sebuah kejujuran media islam dalam wilayah pencitraan dirinya.

Bagaimana dengan media sekuler? Selama ini media sekuler tidak pernah mengklaim bahwa dirinya sekuler. Mereka selalu berlindung dibalik label tertentu, misalnya label “Umum”. Sebagian besar surat kabar sekuler yang berkembang di Indonesia memakai label “Harian Umum”. Label tersebut nampaknya digunakan untuk menunjukan sebuah media umum yang terbit secara harian. Apa sebenarnya motif yang terkandung pada label tersebut?

Mungkin label “Harian Umum” sangat selaras dengan konsep netralitas media. Meskipun dalam kenyataan netralitas media tersebut masih diragukan, tapi label “Harian Umum” memberikan harapan kepada khalayak seakan-akan netralitas media itu hadir pada diri media yang mengklaimnya. Label “Harian Umum” nampaknya digunakan media sekuler untuk mendekatkannya dengan persepsi publik agar terlihat netral. Citra yang muncul seakan-akan media sekuler tersebut pantas diterima publik karena dirinya terbebas dari nilai ideologi tertentu. Meskipun citranya tersebut sifatnya semu yang mungkin hanya digunakan untuk mendapatkan kepercayaan publik semata. Coba bila media sekuler berlaku jujur terhadap identitasnya, misalnya menggunakan label “Harian Sekuler”. Kemungkinan terbesarnya, mereka tidak akan dengan mudah mendekatkan dirinya dengan presepsi publik, yang mayoritasnya di Indonesia beragama Islam.

Media Islam Radikal

Kelompok jaringan islam liberal memberikan label media islam radikal kepada majalah Sabili, dan juga secara implisit kepada media islam lain yang identik dengannya. Label islam radikal yang digunakan JIL tersebut mirip dengan apa yang pernah dinyatakan Presiden Amerika Serikat (AS) George W. Bush dalam pidatonya. Di depan undangan National Endowment of Democracy dan di hadapan The Ronald Reagan Presidential Library, pada 6 Oktober 2005, Bush mengaitkan ideologi Islam dengan kata ‘Radikal’, ‘Militan’, bahkan ‘fasis’. (Al-Wa’ie, 2005).

Pembentukan citra dengan label islam radikal memang sempat marak dalam media massa pasca tragedi bom Word Trade Center (WTC) 11 September 2001 (tragedi 911). Citraan tersebut mucul dalam media massa, beriringan dengan maraknya isu War on Terorist (selanjutnya di baca WOT) yang dihembuskan Bush dan kroni-kroninya. Sehingga seorang jurnalis yang cukup berpengaruh dari CNN bernama Lou Dobbs mengganggapnya sebagai “War Against Islamists”. Bahkan akademisi dari Institute for Foreign Policy Analysis Profesor Geof Porter menyatakan, akan lebih baik jika menyebutknya, ‘War Against Radical Islamist’. (Khilafah Magazine, 2006).

Citra yang mucul dengan label Media Islam Radikal yang digunakan JIL ternyata menjadi inspirasi untuk menyerang aktivisme Islam politik. Peneliti dari Freedom Institute Luthfie Assyaukanie, dalam artikelnya yang berjudul, “Para Pembela Teroris”, secara implisit menuduh para wartawan, aktivis, dan pelajar yang melancarkan sentiment negatif terhadap Amerikan Serikat sebagai pembelaan terhadap teroris. (Tempo, 6 Juni 2007).

Tuduhan aktivis liberal semacam Luthfie Assyaukanie tersebut bisa jadi hanya merupakan sebuah bentuk kekecewaannya semata. Pasalnya, meskipun Amerika Serikat dan kroni-kroninya yang dikomadoi oleh Bush terus-menerus mengkampanyekan WOT sekaligus melakukan stigmatisasi negatif terhadap Islam politik. Ternyata membuahkan hasil yang justru membuat reputasi AS semakin terpuruk.

Banyak sentimen negatif terhadap AS, tidak saja didunia Islam, tapi juga di Eropa, Asia, dan bahkan di Amerika sendiri. Pandangan negatif kalangan muslim terhadap AS, yang biasanya hanya beredar di Timur Tengah, kini menyebar ke Indonesia dan Nigeria. Hasil survei Pew Reasearch Center, sebuah lembaga riset independen dari Washington DC, pada mei 2003 melakukan jajak pendapat dengan mewawancarai sekitar 16.000 orang di 20 Negara. Tingkat dukungan terhadap AS di Indonesia anjlok dari 61 % menjadi 15 %, sementara tingkat dukungan terhadap AS dikalangan muslim Nigeria jatuh dari 71 % ke 38 %.

Selain itu, banyak pandangan negatif terhadap AS pun datang dari negara-negara sekutunya. Tingkat dukungan rakyat Perancis, Jerman, dan Rusia terhadap AS mengalami terjun bebas. Di inggris, sentimen positif terhadap AS mengalami penurunan dari 75 % menjadi 48 % terhitung sejak pertengahan 2002. di Italia, dalam periode yang sama, dukungan kepad AS berkurang setangahnya, dari 70 % menjadi 34 %. Sedangkan di Spanyol, yang mendukung As hanya kurang dari seperlima saja, yaitu 14%.(Khilafah Magazine, 2006).

Terorisme adalah sebuah gerakan yang tidak bertangungjawab terhadap kemanusiaan. Mungkin terorisme adalah musuh bersama dunia yang memang harus diperangi, tak peduli agama maupun ideologi apapun yang dianut pelakunya. Begitu juga tak peduli mereka berasal dari negara manapun berasalnya. Tapi persoalannya, hembusan isu terorisme tersebut telah membentuk sebuah opini publik internasional yang tidak adil. Misalnya opini publik internasional selama ini sangat mudah menerima pemaknaan bahwa tragedi 911 dan Bom Bali sebagai tindakan terorisme. Sementara kekejaman penjajah Israel terhadap rakyat Palestina, maupun penyerangan militer Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya ke negri-negri kaum muslimin, sangat sulit diterima opini publik internasional sebagai tindakan terorisme.

Ketidakadilan isu terorisme tersebut muncul akibat dari banyaknya media massa yang nampak berpihak pada kepentingan AS. Hendriawan Pujianto, aktivis Law and Government Watch dalam sebuah tulisannya menyatakan, liputan media dan informasi yang disampaikan sebagai news mengenai gerakan terorisme sangat sarat kepentingan politik, supremasi, dan subordinasi peradaban AS dan Barat. Hampir semua liputan pers dan media massa tentang terorisme bermuara pada kamus besar negara adikuasa. Dalam hal ini, terorisme itu hanya diartikan sebagai aksi-aksi kekerasan kelompok kecil yang mengancam kepentingan AS dan negara-negara Barat. (http://www.polarhome.com, 26 November 2002).

Masih menurut Hendriawan Pujianto, kecenderungan serupa juga terjadi dalam liputan pers dan media perkabaran Indonesia dalam liputan pengeboman Sari Club dan Paddy’s Club di Kuta, Bali. Sebagian besar liputan media perkabaran di tanah air tentang aksi terorisme di Bali itu cenderung sarat kepentingan penguasa untuk melayani kepentingan AS dan Barat.

Tapi atas pertolongan Allah, ternyata tidak sedikit umat muslim maupun non muslim, aktivis politik, para wartawan, dan lain sebagainya, berupaya mensejajarkan opini pablik internasional dengan menyatakan kebenaran dengan apa adanya. Mereka tidak mudah menerima isu terorisme yang dipropagandakan AS dan media-media Barat dalam menstigma negatif terhadap islam. Mereka hanya berupaya berpandangan secara adil, bahwa serangan militer yang dilakukan AS dan sekutunya ke negara-negara muslim sebagai bentuk tindakan terorisme juga.

Media Pluralis

Terdapat tiga pandangan yang berbeda dalam memaknai eksistensi media massa. Ada yang berpandangan kritis, pluralis, ada juga yang konstruktif. Pihak yang berpandangan kritis melihat posisi media hanya di kuasai oleh kelompok dominan dan menjadi sarana untuk memojokan kelompok lain. Pihak yang berpandangan pluralis melihat poisisi media sebagai sarana yang bebas dan netral, tempat semua kelompok masyarakat saling berdiskusi. (Eriyanto, 2001) Sedangkan yang berpandangan konstruktif, media merupakan subjek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan bias, dan pemihakannya. Media dipandang sebagai agen konstruksi social yang mendefiniskan realitas (Eryanto, 2002).

Kecenderungan masyarakat Indonesia secara dominant dapat digolongkan sebagai pihak yang berpandangan pluralis terhadap media. Sebagain besar masyarakat kita hanya percaya pada media yang netral atau media yang menjadi tempat semua kelompok masyarakat saling berdiskusi. Meskipun hal tersebut merupakan sebuah harapan yang sulit ditemui dalam kenyataannya, pembentukan citra “netral” yang diperaktikan Kompas telah meraih kepercayaan publik. Dan ini menjadi sebuah indikator bahwa masyarakat kita dominant berpandangan pluralis terhadap media.

Kecenderungan masyarakat kita yang secara dominant berpandangan pluralis nampaknya dimanafaatkan oleh kalangan Islam liberal. Kalangan islam liberal, mencoba mempromosikan media islam pluralis sebagai alternatif dari media yang mereka anggap radikal. Inilah bentuk promosi yang menggelikan, mereka melakukan pencitraan buruk terhadap media islam untuk mengangkat media pluralis. Politik pencitraan yang dilakukan JIL pantas kita sebut sebagai “politik belah bambu”, satu belahan di injak untuk mengangkat belahan yang satunya lagi.

Media islam pluralis yang mereka maksud adalah majalah Syir’ah. “Syir’ah, merupakan salah satu eksperimen anak muda dalam mengembangkan wacana Islam pluralis”, papar pentolan aktivis islam liberal Ulil Abshar-Abdalla. Dia menganggap munculnya majalah Syir’ah sebagai jawaban atas kondisi tidak idealnya media-media islam yang cenderung mengumbar semangat kebencian.(www.icrp-online.org, 2007)
Pimpinan Majalah Syir’ah Alamsyah M Ja’far menyatakan, visi Syir’ah pertama-tama adalah hendak memberikan informasi yang beragam tentang doktrin dan ajaran Islam kepada khalayak pembacanya. Kita tahu, sejak tahun 1999 wacana keislaman di media massa nyaris dikuasai satu wacana Islam yang bercorak radikal. Karena itu, Syir’ah berupaya menyajikan informasi yang beragam tentang isu-isu keagamaan, tidak hanya soal halal-haram dari sudut pandang normatif agama saja. (www.islamlib.com, 21 maret 2003).

Selain mempromosikan media islam pluralis, kelompok islam liberal pun mempromosikan media islam yang menurut pandangan mereka tergolong moderat. Agus Muhammad dalam artikel berjudul, “Quo Vadis media Islam Moderat?”, menggambarkan bahwa media islam moderat sebagai alternative dari maraknya media-media islam yang menurut pandangan kaum muslim liberal sebagai media radikal.
Munculnya media islam “pluralis” dan “moderat” yang bersinggungan dengan media islam “radikal”, merupakan praktik labelisasi dari kalangan muslim liberal. Strategi pembentukan citra ini, seakan-akan ingin mempertegas keberadaan media yang menurut pandanganya “radikal”. Itulah cara-cara kelompok muslim liberal yang nampaknya ingin memperkeruh eksistensi media Islam dalam ranah publik.

Daftar Referensi

Anwar, H. Rosihan.1993. “Pers Islam Indonesia, Mampukah Bangkit?” Bandung: Hikmah, 9 Februari 1993.
Assyaukanie, Luthfie.2007. “Para Pembela Teroris”. Jakarta: Tempo, 6 Juni 2007.
Eriyanto, 2001. “Analisis Wacana”. Penerbit LKIS, Yogyakarta.
_______, 2002. “Analisis Framing”. LKIS, Yogyakarta
Muhammad, Agus, 2001. “Jihad Lewat Tulisan”. Pantau. Kajian media dan jurnalisme. Juli, 2001. hal 11-16.
Situs Jaringan Islam Liberal, www.islamlib.com, 21 Maret 2005. “Agus Sudibyo: Mutu Jurnalistik Media Islam Radikal Sangat Lemah”
Situs Jaringan Islam Liberal, www.islamlib.com, 21 Maret 2005“Quo Vadis Media Islam Moderat”
Junaedhi, Kurniawan. 1995. Rahasia Dapur Majalah di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Lembaran Brosur Kompas untuk Hari Pers Nasional 1989, Judul, “Berawal dari Kantor Tumpangan dan Mesin Tik Pinjaman.
Pelita.(1993).”Selamat Datang Republika” Jakarta, 5 Januari 1993.Hlm 1.
Majalah Al-Waie. 2005. “Propaganda Jahat BushTerhadap Islam dan Khilafah” No.64, 1 Desember 2005.
Khilafah Magazine. 2006. “Dimensi Baru Perang Melawan Teror” No.8 / Tahun 1, Mei 2006. Hlm 14-16.
Pujianto, Hendriawan, Milist http://www.polarhome.com/pipermail/nusantara/ , 26 November 2002

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. ass,wr,wb. Kang gimana menanggapi peran media yang sepertinya hanya mencari duit saja, apa gak mikir idiologi agama dan negara??

  2. Waalaikumsalam..
    Media apa dulu? Maaf pertanyaannya kurang spesifik. Tapi akan saya maknai. Sepengetahuan saya, bila mengamati perkembangan media sekuler yang berkembang di Indonesia, gak melupakan ideologi, agama, dan negara. Mereka tetap merepresentasikannya kok. Saya kira hampir semua media juga tidak pernah terlepas dari ikatan ideology, agama, dan Negara. Mungkin cara merepresentasikannya yang berbeda-beda. Kecenderungan media sekuler memang pragmatis, tapi bukan berarti tidak berideologi. Melalui analisis wacana atau framing berita, kecenderungan ideologis media apapun bisa terbongkar, meski pihak medianya bisa saja tidak mengakuinya.
    Berbeda dengan media islam yang secara lugas, bahkan tegas merepresentasikan ideology dan nilai-nilai agamanya. Itulah salah satu bukti kejujuran media islam dibandingkan media sekuler. Coba baca ulang tulisan saya diatas. Lihat perbedaan media sekuler dengan media islam.
    Bicara tentang mencari duit itu penting bagi media atau institusi pers. Pers tidak bisa hidup tanpa mekanisme industri / bisnis. Saya lebih menyukai media yang mapan dalam berbisnisnya, dibandingkan dengan media yang sangat kecil keuntungan bisnisnya tapi
    membiarkan wartawannya liar, mencari uang sampingan di luar (uang amplop/ suap), bahkan ada yang sampai nekad memeras pihak tertentu.

    Terkadang saya lebih menghargai pers yang memberitakan persoalan bisnis / ekonomi semata, dibandingkan dengan pers yang membisniskan fakta sumir, memelintir berita untuk tujuan kuasa, menjual aib orang, bahkan mengkomoditikan konflik.
    Perlu di ingat baik-baik! Pers harus bertangung jawab sosial. Pers yang bertangung jawab sosial hanyalah pers yang bernurani, memberikan manfaat atau menjaga kehidupan sosial menjadi lebih baik, bukan hanya mementingkan dirinya sendiri.


Leave a comment

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.