<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Citra Politis terhadap Media Islam</title>
	<atom:link href="http://blogaryandi.wordpress.com/2008/02/09/pencitraan-politis-terhadap-media-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogaryandi.wordpress.com/2008/02/09/pencitraan-politis-terhadap-media-islam/</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 08 May 2009 01:32:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: blogaryandi</title>
		<link>http://blogaryandi.wordpress.com/2008/02/09/pencitraan-politis-terhadap-media-islam/#comment-107</link>
		<dc:creator>blogaryandi</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 11:36:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogaryandi.wordpress.com/?p=27#comment-107</guid>
		<description>Waalaikumsalam.. 
Media apa dulu? Maaf pertanyaannya kurang spesifik. Tapi akan saya maknai. Sepengetahuan saya, bila mengamati perkembangan media sekuler yang berkembang di Indonesia, gak melupakan ideologi, agama, dan negara. Mereka tetap merepresentasikannya kok. Saya kira hampir semua media juga tidak pernah terlepas dari ikatan ideology, agama, dan Negara. Mungkin cara merepresentasikannya yang berbeda-beda. Kecenderungan media sekuler memang pragmatis, tapi bukan berarti tidak berideologi. Melalui analisis wacana atau framing berita, kecenderungan ideologis media apapun bisa terbongkar, meski pihak medianya bisa saja tidak mengakuinya. 
Berbeda dengan media islam yang secara lugas, bahkan tegas merepresentasikan ideology dan nilai-nilai agamanya. Itulah salah satu bukti kejujuran media islam dibandingkan media sekuler. Coba baca ulang tulisan saya diatas. Lihat perbedaan media sekuler dengan media islam.
Bicara tentang mencari duit itu penting bagi media atau institusi pers. Pers tidak bisa hidup tanpa mekanisme industri / bisnis. Saya lebih menyukai media yang mapan dalam berbisnisnya, dibandingkan dengan media yang sangat kecil keuntungan bisnisnya tapi 
 membiarkan wartawannya liar,  mencari uang sampingan di luar (uang amplop/ suap), bahkan ada yang sampai nekad memeras pihak tertentu.  

Terkadang saya lebih menghargai pers yang memberitakan persoalan bisnis / ekonomi semata, dibandingkan dengan pers yang membisniskan fakta sumir, memelintir berita untuk tujuan kuasa, menjual aib orang, bahkan mengkomoditikan konflik. 
Perlu di ingat baik-baik! Pers harus bertangung jawab sosial. Pers yang bertangung jawab sosial hanyalah pers yang bernurani, memberikan manfaat atau menjaga kehidupan sosial menjadi lebih baik, bukan hanya mementingkan dirinya sendiri. </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Waalaikumsalam..<br />
Media apa dulu? Maaf pertanyaannya kurang spesifik. Tapi akan saya maknai. Sepengetahuan saya, bila mengamati perkembangan media sekuler yang berkembang di Indonesia, gak melupakan ideologi, agama, dan negara. Mereka tetap merepresentasikannya kok. Saya kira hampir semua media juga tidak pernah terlepas dari ikatan ideology, agama, dan Negara. Mungkin cara merepresentasikannya yang berbeda-beda. Kecenderungan media sekuler memang pragmatis, tapi bukan berarti tidak berideologi. Melalui analisis wacana atau framing berita, kecenderungan ideologis media apapun bisa terbongkar, meski pihak medianya bisa saja tidak mengakuinya.<br />
Berbeda dengan media islam yang secara lugas, bahkan tegas merepresentasikan ideology dan nilai-nilai agamanya. Itulah salah satu bukti kejujuran media islam dibandingkan media sekuler. Coba baca ulang tulisan saya diatas. Lihat perbedaan media sekuler dengan media islam.<br />
Bicara tentang mencari duit itu penting bagi media atau institusi pers. Pers tidak bisa hidup tanpa mekanisme industri / bisnis. Saya lebih menyukai media yang mapan dalam berbisnisnya, dibandingkan dengan media yang sangat kecil keuntungan bisnisnya tapi<br />
 membiarkan wartawannya liar,  mencari uang sampingan di luar (uang amplop/ suap), bahkan ada yang sampai nekad memeras pihak tertentu.  </p>
<p>Terkadang saya lebih menghargai pers yang memberitakan persoalan bisnis / ekonomi semata, dibandingkan dengan pers yang membisniskan fakta sumir, memelintir berita untuk tujuan kuasa, menjual aib orang, bahkan mengkomoditikan konflik.<br />
Perlu di ingat baik-baik! Pers harus bertangung jawab sosial. Pers yang bertangung jawab sosial hanyalah pers yang bernurani, memberikan manfaat atau menjaga kehidupan sosial menjadi lebih baik, bukan hanya mementingkan dirinya sendiri.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Eko</title>
		<link>http://blogaryandi.wordpress.com/2008/02/09/pencitraan-politis-terhadap-media-islam/#comment-103</link>
		<dc:creator>Eko</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 02:13:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogaryandi.wordpress.com/?p=27#comment-103</guid>
		<description>ass,wr,wb. Kang gimana menanggapi peran media yang sepertinya hanya mencari duit saja, apa gak mikir idiologi agama dan negara??</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ass,wr,wb. Kang gimana menanggapi peran media yang sepertinya hanya mencari duit saja, apa gak mikir idiologi agama dan negara??</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
