Nuansa Politik Islam Semakin Dibutuhkan

November 18, 2008 at 3:20 am | In Uncategorized | Leave a Comment

Apabila dilihat secara kasat mata, nampaknya nuansa politik islam semakin dibutuhkan masyarakat, jelang pemilu 2009. Sebuah ulasan dari survei lembaga Survei Indonesia (LSI), menyebutkan, 33% masyarakat Indonesia berorientasi nilai-nilai politik Islam dan 57% berorientasi nilai-nilai sekuler (berpolitik.com, 06/10/2007).

Menurut pandangan saya, bahkan mungkin saja sedikit terkait atas dasar adanya hasil survei tersebut, terdapat isu yang berkembang; beberapa survei menunjukkan kecenderungan perilaku pemilih (voter behavior) menjatuhkan pilihan pada parpol atas dasar agama semakin meningkat (baca opini: Dr. Ali Masykur Musa, Republika, 27/9/ 2008). Dalam hal ini, saya sendiri memprediksikan, bisa saja prilaku pemilih tersebut menjatuhkan pilihannya terhadap parpol berasaskan islam.

Kita mungkin mengetauhi sejarahnya, dari masa pra maupun pasca-kemerdekaan Republik Indonesia, dalam kancah perpolitikan nasional, parpol berasaskan islam selalu bertentangan dengan kalangan nasionalis. Tapi nampaknnya, kenyataan sekarang telah mengalami perubahan yang cukup berarti, pertentangan kedua kubu tersebut mulai mencair. Saya cukup kagum ketika Bapak Wakil Presiden (Wapres) Yusuf Kalla menyatakan; “Tidak ada lagi pertentangan antara Islam dan nasionalis,” ujarnya dalam acara buka puasa bersama dan bincang santai “Bicara Politik dan Islam” yang digelar Republika di Jakarta, Selasa (23/9). Padahal wapres Yusuf Kalla dapat dikatakan sebagai pihak dari kalangan partai nasionalis– Ketua Umum DPP Partai Golkar.

Sebelumnya, saya pun merasa bahagia ketika menemukan pernyataan dari kalangan nasionalis di media massa. “Kita ingin memantapkan koalisi permanen. Koalisi kebangsaan yang agamis, tidak ada dikotomi Islam dan Nasionalis,” kata Ketua Dewan Pertimbangan DPP-PDIP Taufiq Kiemas dalam perayaan ulang tahun pertama Baitul Muslimin, di Kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, (Sinar Harapan, 8 mei 2008).

Lain halnya dari kalangan Nasionalis, saya juga dikagetkan dengan adanya pemberitaan bahwa ibu Dita Indah Sari bertekad memasuki parlemen. Dia kini sudah mengajukan diri menjadi Caleg dari parpol yang identik dengan basis massa islam, Partai Bintang Reformasi (PBR). Padahal dia ini sebelumnya, banyak pihak yang menge-cap-nya sebagai tokoh sosialis di negri ini. (Baca berita : Media Indonesia-online, 02 Agustus 2008).

Mengikuti perkembangan berita, belum lama ini, salah satu partai politik berazaskan islam; Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memiliki pengaruh yang cukup besar. Pengaruhnya pun bukan hanya terbatas dari basis massa Islam, melainkan dapat menjangkau basis massa nasionalis. Buktinya, dari sekian ratus pemilihan kepala daerah, lebih dari 80 daerah dimenangkan oleh kader-kader PKS atau calon yang dijagokan oleh PKS. (Tarbawi, edisi 166, 9/11/2007)

Memaknai semua itu, terlepas dari adanya motif politik lain didalamnnya, menurut hemat saya, apa yang terjadi telah merepresentasikan sebuah nuansa, bahwa politik islam semakin dibutuhkan masyarakat. Alhamdulillah, semoga nuansa tersebut dapat dijadikan sebuah penyemangat baru bagi para pengemban dakwah dalam memperkuat barisan dakwah dan mengokohkan akidah Islam, dimana pun keberadaanya, untuk kebaikan kita bersama. Amin.

No Comments Yet »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.